Biar saja rindu menyusuri altarnya. Tugas kita menanti rebahnya memeluk dua hati yang telah disatukan. Karena rindu, adalah cara kita mengucapkan terima kasih pada pertemuan.

– @shandyputraa
4 days ago 1

Anonymous asked: tulisannya bagus, puitis tapi ngga norak, tapi mau tanya, ko di setiap tulisan kamu selalu dengan wanita yang berbeda ya ?

Terima kasih, kamu—yang entah namanya siapa. Hhehehe. Sebenarnya, bukan dengan perempuan (saya lebih suka menyebutnya perempuan dibanding wanita) yang berbeda, tapi karena saya menuliskannya untuk perempuan. Perempuan mana saja. Memang ada beberapa tulisan yang sengaja ditulis untuk seorang perempuan. Tapi kebanyakan saya menulis untuk perempuan, entah siapa dia. Saya begitu karena bagi saya, perempuan adalah hal yang paling indah. Sekali lagi, terima kasih sudah membaca. Lain kali berkunjung lagi, ya.

4 days ago

Beberapa Catatan Yang Akhirnya Tertulis

Beberapa waktu belakangan, saya seperti mati suri. Saya tak mampu menuliskan beberapa tulisan. Meski saya terus berusaha, namun—pada akhirnya—kertas putih yang telah saya tulisi beberapa kalimat kembali putih.

Pagi ini, saya bertekad menuliskan beberapa catatan kecil. Semoga kamu suka. Selamat membaca..

***

— Saya Berharap Dapat Memeluk Kamu

Saya selalu berharap, setiap saya menuliskan sesuatu, saya dapat memeluk kamu. Saya juga berharap, setiap kamu selesai membaca tulisan saya, kamu balas memeluk saya. Namun, sialnya, saat saya bersama kamu, saya tak mampu menulis sesuatu. Saya seperti terlalu bahagia bersama kamu sehingga saya tak dapat melakukan apapun selain tersenyum dan memandangi seluruh wajahmu.

Kini, saya seperti berada di tepian jurang yang sangat dalam. Saya tak punya pilihan selain melompat atau tetap diam menunggu angin menjatuhkan seluruh tubuh saya ke bawah. Di bawah jurang sana, kamu telah menunggu saya sembari merentangkan kedua lenganmu untuk memeluk saya. Jika kamu menjadi saya, apa yang akan kamu pilih? Melompat atau menunggu angin? Saya berharap kamu menjawabnya di suatu waktu.

***

— Hal Menyebalkan Saat Bersama Kamu

Saat sedang berbincang dengan kamu, saya merasa bahagia dan sebal sekaligus. Kamu selalu tak punya pilihan. Kamu selalu pasrah atas setiap pernyataan saya. Atau, setiap saya bertanya, kamu selalu menanyakan hal yang saya tanyakan tanpa menjawab terlebih dahulu. Dan, setelah saya jawab pertanyaan yang saya tanya untuk kamu namun menjadi pertanyaan untuk saya, kamu menanyakan perihal lain dan seolah-olah melupakan pertanyaan saya. Itulah hal yang paling menyebalkan saat bersama kamu.

Dalam soal lain, saat keadaan mendesak dan menuntut kamu untuk memilih dari sekian banyak pilihan, kamu malah memilih “Ya sudahlah.” Hingga detik ini, saya tak tahu maksud dari kata “Ya sudahlah” tersebut.

***

— Saya Berharap Dapat Menghubungi Kamu

Semalam, kita sama-sama tahu bahwa kita dalam keadaan sama: terdesak. Namun, salah satu dari kita tak ada yang mampu untuk memilih sebuah pilihan. Kita seakan-akan lebih nyaman dalam keadaan mengambang dan tergantung.

Pagi ini, saya tak punya cukup uang untuk menghubungi kamu. Hingga akhirnya saya ingat bahwa dalam operator seluler yang saya gunakan—operator yang sama yang kamu gunakan untuk seluler kedua kamu—terdapat sebuah layanan gratis yang bernama “Telepon Aku.” Saya menggunakan layanan itu dan berharap kamu dengan segera menelepon saya. Atau, setidaknya kamu menghubungi saya via pesan singkat. Namun, kamu tak kunjung menghubungi saya. Kasihan.

***

— Kehilangan Pada Suatu Pagi

Saya menyukai pagi dan apapun tentangnya. Saya menyukai pagi karena saya tahu kamu selalu bangun pagi untuk siap-siap menjalankan kegiatan rutin kamu. Dan, saya selalu bangun—atau belum tidur sama sekali—lebih pagi dari kamu. Kadang, saya berpura-pura tidur ketika kamu mengirim pesan singkat pada suatu pagi. Saya hanya ingin menikmati debar jantung saya tiap membaca pesanmu pada pagi hari.

Beberapa pagi belakangan, saya seperti kehilangan cahaya meski matahari tak pernah terlambat menyapa. Saya kesulitan tiap ingin membuat kopi karena gelap yang saya rasakan begitu pekat. Saya harus meraba-raba tiap ingin berjalan. Atau, saya harus menyalakan korek api untuk menerangi bagian di sekitar saya. Saya kehilangan cahaya pada pagi-pagi saya. Saya kehilangan manis pada pahit kopi-kopi saya.

Barangkali, seperti inilah rasanya ditinggalkan, rasanya kehilangan. Rasanya memiliki kenangan baru meski saya selalu menikmati kenangan-kenangan lama. Dan, setiap hati yang patah karena kepergian, perlahan-lahan berjalan mencari rumah baru untuk kesekian kalinya. Di sana pula setiap kenangan baru menempati kamarnya masing-masing.

***

— Lagu Lama

Pagi ini, saya menyalakan laptop saya dan memutar beberapa lagu lama. Mendengarkan lagu lama, bagi saya, seperti mengunjungi masa lalu. Saya percaya, setiap orang memiliki lagu kenangannya masing-masing. Beberapa lagu yang saya putar mengingatkan saya perihal mantan-mantan saya.

Saat suatu lagu terputar, masa lalu diam-diam merasuki mata saya. Masa lalu yang menyebabkan kenapa lagu itu menjadi lagu kenangan bagi saya. Begitu seterusnya sampai playlist lagu lama saya berakhir dan saya memutuskan untuk membuat kopi. Lalu, menikmatinya sambil menatap langit pagi dari atap rumah saya.

***

— Kopi Pagi Ini

Kopi saya pagi ini cepat dingin. Sedikit pahit, dan terlalu kental. Lalu, di ujung rasa pahit terdapat rasa asam. Padahal, saya menggunakan resep yang sama. Resep yang selalu saya gunakan untuk tiap kopi-kopi saya.

Barangkali, kopi saya pagi ini berasal dari sebuah pohon yang patah hati. Yang ditinggalkan burung-burung pergi. Yang dipetik petani LDR. Dan, dibuat oleh seseorang yang berharap kekasihnya kembali.

4 weeks ago

Kenapa, Zi


1 month ago 4

Dua Malam

semalam, kita merasa kehilangan

pasangan lain menyebutnya pertengkaran

kita hanya diam:

berusaha saling menyalahkan

 

kita berbaring tak saling tatap

tak saling mengucap

tak saling mengecup

semalam, untuk pertama kalinya aku tahu guna selimut

—menghangatkan tanpa pelukan

 

malam ini, kita saling tatap

saling ucap

saling kecup

dan selimut kembali tak berguna

—kita berpelukan dengan sesekali ciuman

 

namun, aku tak mengerti arti pertengkaran semalam

bersama kamu, semua terasa sempurna

mata yang tajam, bibir yang geram

rambutmu serupa sungai

aku nelayan yang mencari ikan

pohon rindang di tepian, hati tenang duduk bersandar

 

tak ada maaf-maafan

tak ada kesedihan

tak ada bentakan

pertengkaran, barangkali, cara hati kita menumbuhkan rindu baru

pada cinta yang telah lama tinggal

pada cukup yang tertanggal

 

Depok, 25 Maret 2013

2 months ago 1

Keterlaluan Tuhan

Apalagi yang harus aku katakan

sementara bibirku masih tertinggal di telingamu.

Aku berjalan pelan,

sendirian, di tepi kenangan.

 

Keringatmu dua dekade lalu

masih memeluk seluruh jiwa.

Belaianmu, senantiasa mendesah di sela-sela napas.

Beringas. Ganas.

 

Tuhan tak pernah ikut campur

sejak pertama kali dada kita saling menghangatkan.

Sejak hidung kita berciuman.

Sejak kulit kita ketakutan.

Setiap kutanya mengapa,

Tuhan selalu diam saja.

Barangkali, bibir Tuhan pun

tertinggal di telinga kekasihnya.

 

Kau dan aku memeluk semu.

Sebab rindu memutilasi jarak

menjadi beranak pinak.

Ketika kau dan aku berada pada mimpi yang sama

namun berbeda pada kenyataan,

mungkin itu cara cinta memsiahkan kita.

 

Atau, barangkali Tuhan,

membuatnya serba terlalu.

Aku terlalu sayang,

kau terlalu curang.

Dan cinta, hanyalah seorang pencuri.

Lalu kita, terlalu takut kehilangan.

 

Depok, 15 Maret 2013

2 months ago

Ketika otak kami—Finalis LA Lights Indie Movie 2013 Regional Jakarta—mulai bergeser. Inilah yang kami lakukan. Enjoy aja!! :’)


2 months ago

Betapa menyedihkan sebuah perpisahan tanpa sapaan. Tanpa perayaan. Tanpa bibir yang berucap. Tanpa tangan yang melambai. Hanya punggung yang berjauhan—selamat tinggal di akhir kenangan.

2 months ago 4

Minum Susu

Setiap hujan

Ibu selalu membawa panci

ke dalam kamarnya.

 

Tak lupa

ia menyelimuti hatinya.

Agar tetap hangat.

Agar tak karat.

 

Setelah hujan

Ibu giat memasak.

 

Esok pagi setelah hujan

meja makan dikeroyok cangkir paling mahal milik Ibu.

“Pagi ini kita sarapan susu Tuhan lagi,” kata Ibu.

2 months ago 3

Tentang Seorang Lelaki Yang Gemar Menyatakan Cinta

Masihkah cinta terucap hanya sebatas lisan yang melukis rongga telinga? Terlebih mengumbar kepada siapa saja sejauh mata dapat melihat?

***

“I love you.” Kata seorang lelaki kepada perempuan yang baru dikenalnya lima menit lalu.

“Apa tidak terlalu cepat?” balas si perempuan dengan penuh ragu.

“Cinta bisa datang kapan pun. Bahkan dari lima menit yang lalu.” Dengan yakin bibir lelaki itu berucap tanpa melihat kedua mata si perempuan. Sementara si perempuan masih menerka-nerka apa yang dirasakan si lelaki saat lelaki itu tanpa belas kasihan memenggal jarak raga mereka yang kini tinggal sesenti. Si lelaki membelai rambut ikal si perempuan yang kali ini tubuhnya mendadak beku bagai di kutub.

Si lelaki masih memainkan rambut ikal si perempuan yang tanpa sadar si perempuan sedang berdiskusi dengan hatinya. “Apa ini cinta? Secepat itu dan semudah itu?” kata hati si perempuan.

“Barangkali memang begitu.” Jawab sosok tegar yang tak lain adalah pikiran si perempuan.

***

Esoknya, si perempuan berlayar di sebuah lautan yang sangat amat luas. Makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna menyebutnya internet. Ia menerjang arus menuju salah satu dermaga kecil milik si lelaki. Si perempuan melihat si lelaki sedang bersama seorang gadis.

“Aku cinta kamu.” Samar-samar si perempuan mendengar si lelaki berkata kepada gadis yang berada di sampingnya.

“Ah, tidak mungkin!” bisik si perempuan kepada hatinya.

Lalu ia melihat si lelaki merentangkan lengannya melewati kedua bahu si gadis. Dan… ah, si lelaki mencium kening si gadis. Sesaat setelah itu, perahu kayu yang digunakan si perempuan untuk berlayar tiba-tiba seperti dipukul gelombang mahadahsyat. Si perempuan terjatuh. Ia tenggelam dalam rasa sesak yang membanjiri dadanya.

Ia tak sadarkan diri. Sampai suatu ketika saat membuka mata, ia kaget bukan main. Tahu-tahu ia berada di sebuah pantai dengan pasir putih dan air laut yang berwarna biru muda. Jernih sekali. Bahkan, saking jernihnya air tersebut, si perempuan bisa melihat masa lalunya.

Si perempuan tersenyum. Ia juga malu. Oh, malu-malu lebih tepatnya. Namun, ia masih terus menyaksikan masa lalunya sambil sesekali tertawa kecil. Barangkali ia merindukan masa lalulnya. Merindukan saat dimana ia benar-benar menikmati cinta dengan polos dan apa adanya. Merindukan masa-masa ketika bertemu seseorang yang dicintainya, ia seperti diserang rasa grogi sekaligus bahagia. Ia juga merindukan saat dimana ia menerima surat cinta pertama. Di dalam surat cinta tersebut tertulis bahwa ada seorang cowok yang menyukainya, menyayanginya, mencintainya selama bertahun-tahun. Namun, cowok tersebut tak berani mengatakannya. Dalam surat itu juga si perempuan benar-benar merasakan apa yang si cowok rasakan hanya dari melihat tulisannya saja. Hal yang sangat berbeda dengan apa yang baru saja ia alami kemarin dan hari ini dari si lelaki.

Wait. Ngomong-ngomong, kemana si lelaki tersebut? Apakah ia sudah mati dimakan ikan hiu yang kelaparan? Atau ia sudah melebur menjadi butiran kecil pasir putih yang sedang diinjak si perempuan?

Saat si perempuan sedang menikmati masa lalunya. Tiba-tiba air laut yang tadinya berwarna biru muda berubah warna menjadi hitam pekat. Si perempuan panik. Kemudian ia melihat si lelaki sedang berenang—bersenang-senang—bersama seorang cewek.

“APA?!” mulut si perempuan terbuka lebar, selebar-lebarnya. Kemudian si perempuan menampar kedua pipinya. Ia seperti di dalam mimpi. Di dalam dunia khayal. Namun, ia masih tersadar. Dan, dengan jelas pula ia melihat si lelaki sedang bercanda ria dengan seorang cewek. Ia menampar lagi kedua pipinya. Nihil. Ia tetap tersadar.

Si perempuan masih tak percaya rupanya. Ia mengumpat di balik batu besar di sudut pantai. Ia melihat si lelaki dan si cewek tersebut menepi ke pinggir pantai. Kemudian mereka berbaring di sebuah kursi panjang. Mungkin maksud mereka berjemur. Atau… entahlah. Hanya mereka berdua yang mengerti.

“Hmmm… I love you.” Dang! Si perempuan tiba-tiba memukul batu besar di hadapannya.

“Apa? Aku tidak mendengarnya.” Balas si cewek.

“Iya, i love you. Aku cinta kamu.” Ulang si lelaki lebih yakin.

“Hahahaha. Kamu lucu sekali. Kamu bercanda, kan?” si cewek tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Ia tak percaya—hal yang serupa dengan si perempuan dan si gadis.

“Tentu tidak.” Si lelaki menggenggam tangan kanan si cewek. Kemudian mengcupnya.

Terdengar bisik rintihan orang menangis. Dari mana datangnya itu? Si perempuan sudah teramat kesal. Ia ingin menghampiri si lelaki. Menamparnya. Mungkin, membunuhnya. Bisik rintihan tangis itu semakin mengeras. Mengerang. Ternyata, suara tersebut berasal dari hati si gadis. Ia menangis. Kaus tipis polosnya kini berubah menjadi gambar badannya akibat air mata deras yang jatuh dari mata berwarna hijau miliknya. Si perempuan mendekati si gadis. Memeluknya. Lalu membelai rambutnya sesekali.

Si perempuan membangkitkan si gadis—dengan maksud mengajaknya untuk menghampiri si lelaki. Langkah si gadis gontai. Entah sakit seperti apa yang menyerang hatinya. Gerak tubuh si perempuan mengisyaratkan: Ayo, segera kita habisi lelaki itu.

Saat jarak mereka sudah semakin mendekat dengan si lelaki. Tiba-tiba… Wussshhhh! Angin besar menerbangkan lelaki itu ke laut. Byurrr! Si lelaki terjatuh ke laut. Apakah ia tenggelam? Tentu tidak. Ia bisa berenang. Si perempuan, si gadis, dan si cewek telah menunggunya di tepi laut. Ketika si lelaki hampir tiba di tepi laut… Craaacckk! Seekor hiu putih besar menerkamnya. Menguyahnya bagai tak makan tiga hari. Uhh! Sungguh tragis sekali perginya si lelaki.

Si perempuan, si gadis, dan si cewek saling menatap. Lalu perlahan mereka menghilang.

***

Hey, lelaki. Seperti inikah kisah hidupmu? Jika iya, segeralah meminta maaf kepada mereka. Jika tidak, pertahankan sikapmu sebagai seorang lelaki yang sesungguhnya.

2 months ago 2